Tuesday, June 30, 2009

Bandung 1999 (7)

Setelah sekian lama kebisuan mengiringi kami, akhirnya...
“Hari ini kamu sedang bahagia yah?” tanya Ricky kepada ku sinis.
“Maksud kamu...?” dengan terheran aku tanya ku balik.
“Alaaa...h, jangan pura-pura!” ucapnya kembali sinis.
“Pura-pura apa? Ngomong yang jelas dong, aku nggak ngerti apa yang kamu omongin!” balas aku dengan sedikit kesal.
“Baik, aku to the point aja. Siapa laki-laki itu?” tanyanya penuh selidik.
“Laki-laki mana?”
“Laki-laki yang ngasih surat ke kamu tadi, aku yakin itu surat cinta, makanya kamu senang sekali menerimanya.” tukasnya cukup yakin dan agak ngotot.
“Ricky, Ricky, kamu ini ada-ada saja. Dia itu teman ku, namanya Diwan. Dengar, jangan sampai karena persoalan sepele, persahabatn kita jadi berantakan. Kamu jangan sampai tertipu, apalagi melihat sesuatu yang hanya sekejap mata.” jelas ku dengan penuh kesadaran.

Tuesday, June 23, 2009

Bandung 1999 (6)

Hubungan “pertemanan” kami terus berjalan seperti biasa, hingga pada suatu hari sepulang sekolah, ketika itu Ricky sudah mengunggu ku di halte depan sekolah ku. Aku sudah melihatnya setelah aku melewati sedikit saja pintu gerbang sekolah karena memang sangat sering Ricky mejemput ku dan halte itu adalah “pos” jaganya. Ketika aku hedak menghapirinya, tiba-tiba Diwan dari menepuk punggungku dari belakang dan memegang lengan ku. Kami sempat berbicara sebetar, Diwan terlihat agak grogi namun aku tetap menanggapinya dengan tersenyum, tak lama dari saku bajunya dia mengeluarkan amplop dan kemudian pergi setelah mengatakan pada ku “tolong dibaca aja ya”.
Tiba-tiba Ricky menarik lengan ku, tanpa peduli kalau aku merasa agak kesakitan karena dia dia mecengkram lenganku dengan cukup kuat. Baru di angkot yang kami langsung tumpangi Ricky melepas tanganku. Selama perjalannya dalam angkot, Ricky membisu, kulihat wajahnya seperti sedang marah. “Kiri Pak!” Sampai akhirnya di depan gang rumah ku, mobil yang kami tumpangi berhenti.

Saturday, June 20, 2009

Bandung 1999 (5)

Aku pun mulai berpikir, cukup sering aku mengatakan dan meminta pada dia itu tidak melakukan itu, atau setidaknya jangan sesering yang dia lakukan akhir-akhir ini, tetapi tetap saja dia sering main ke rumah, dia bilang dia senang saja melakukannya, dari pada pergi ke mana-mana tanpa tujuan dan menghabiskan uang saku. Kadang aku berpikir aku sudah mencuri kebebasannya, bukankah sudah cukup wajar dijaman sekarang ini anak sesusia SMU sudah mempunyai pacar. Tapi ketika kutanyakan hal itu kepadanya, dia bilang dia sudah cukup senang dengan keadaannya saat ini. Mungkin dia memang tipe orang lebih memikirkan pelajaran sekolah dari pada berpacaran dalam hati ku berkata.
Sering Ricky memandangku dengan matanya yang hitam pekat, pandangan yang pasti bisa membuat jantung cewek-cewek bergetar. Tetapi tidak untuk ku, karena aku sudah sering menerimanya, meskipun pada awalnya dahulu sempat membuat ku sedikit salah tingkah namun kini aku bisa biasa-biasa menerima pandangan matanya itu. Kupikir memang begitu cara dia memandang seseorang.

Saturday, June 13, 2009

Bandung 1999 (4)

Beberapa hari semenjak gosip itu beredar, baik dari teman-teman sekolah ku, mapun teman-teman sekolah Ricky, ku lihat banyak mata memandang dengan pandangan yang tidak biasa, diatara meraka ada yang berbisik dan terlihat sekali kalau sedang membicarakan kami. Entah ku pikir itu hanya feeling ku saja, dan aku bersikap tidak peduli. Tapi berbeda dengan Ricky, dia kulihat seperti salah tingkah dan kupikir dialah yang sedang punya masalah.
Dari hari ke hari aku melihat perubahan sikap Ricky kepada diri ku, perubahan yang begitu drastis. Belakangan ini Ricky sangat sering ke rumah ku, hampir setiap hari dari yang biasanya paling hanya seminggu sekali atau pun bila lebih dari itu, dia hanya datang untuk menjemput berangkat bersama ke sekolah. Ini berbeda kali ini Ricky suka datang ke rumah sore, bahkan pernah sepulang sekolah dia langsung saja mampir, sesekali Ricky suka juga datang sehabis matahari terbenam. Dia bilang sedang suntuklah, hanya ingin ngobrol, dan beberapa alasan lainnya yang tidak terlalu penting.

Bandung 1999 (3)

Kebersamaan kami menumbuhkan rasa saling percaya, dan ku akui sejujurnya baru kali ini aku merasakan kebahagian memiliki sahabat setia. Sejak kecil aku merasa sangat asing sekali dengan persahatan, teman-temanku bilang aku anak cengeng, manja dan sebagainya sehingga jarang sekali ada yang mau berteman denganku. Aku jadi jarang bergaul dan waktu ku banyak ku habiskan untuk membaca buku dan belajar, tidak ada waktu untuk bermain.
Sejak aku kenal dengan Ricky, sepertinya dia mempengaruhi dan merubah diri aku. Banyak teman lain di sekolah yang mulai membuka hatinya, mereka jadi dekat dengan ku dan itu membuat ku senang. Banyak yang bilang, bahwa aku yang tadinya seorang “kutu buku” dan “cewek gunung es” itu sebutan mereka, bisa mencair karena seorang Ricky. Mereka selalu mengatakan kalau Ricky sudah menganggap aku sebagai pacarnya.
Begitu pula yang dikatakan oleh Lia, teman sebangku ku. Ketika Ricky datang menjemputku sepulang sekolah, namun aku telah pulang lebih dahulu karena guru yang mengajar jam pelajaran terakhir tidak masuk, Ricky bertemu dengan Lia yang pulang belakangan karena mengurus mading sekolah. Saat itu Ricky sempat “curhat” padanya dan dengan jujur mengatakan bahwa dirinya sangat mecintai aku, begitu Lia pernah cerita. Namun apa yang mereka katakan itu tidak tidak ku pedulikan sama sekali, bagi ku “No matter what they say and no matter what they think” tentang aku dan Ricky, “I don't care at all”. Aku dan Ricky cuma teman, dia tidak pernah menyatakan dan menanyakan pada ku lebih dari itu, dan aku pun tidak pernah meminta lebih dari sekedar teman.

Friday, June 12, 2009

Bandung 1999 (2)

Sejak saat itu aku berteman dan jadi dekat dengan Ricky. Bagiku hubungan kami hanya sebatas teman tidak lebih. Tapi berbeda dengan teman-temanku, mereka menafsirkan lain. Lalu tersebar gosip kalau aku dan Ricky berpacaran. Namun aku tak perduli, Ricky memang cukup manis, dan tampan pula, ditambah lagi cukup pintar. Dengan tinggi badan sedikit di atas rata-rata, ketua OSIS SMU ... itu memang dapat dikatakan sempurna untuk menjadi idola cewek-cewek. Namun aku tidak berubah, meskipun kami cukup dekat, buat ku Ricky hanyalah seorang sahabat.
Sejak saat itu pula kami sering berangkat sekolah bersama, karena kami tinggal berdekatan. Perumahan tempat tinggal Ricky hanya sekitar 300 m dari gang rumah ku, apa lagi dari dalam perumahan tempat Ricky tinggal ada gang yang bisa langsung tembus kesebuah gang yang tepat ada di samping rumah ku. Kami juga sering jalan keluar bersama, ke toko buku mecari buku pelajaran atau sekedar menghilangkan kepenatan. Tak jarang pula Ricky main ke rumah ku untuk sekedar ngobrol-ngobrol.
Setelah sekian lama mengenal Ricky, aku menjadi sangat tahu sifat-sifatnya. Dia memang baik, cukup pengertian dan perhatian, meskipun cara berpikirnya dia agak serius namun kadang kala dia bisa bercanda dan membuat ku tertawa. Kadekatan kami membuat kami seperti saling membutuhkan satu sama lain, tetapi aku tetap pada perinsipku sebelumnya, Ricky hanyalah sahabat baikku tidak lebih. Jika malam minggu kadang dia juga datang kerumahku, dan sesekali dia mengajakku keluar untuk sekedar makan malam atau nonton ke bioskop bila ada film bagus. Aku pikir tidak ada salahnya, setelah enam hari dipenuhi dengan segunung tugas-tugas dari sekolah, jalan bersama Ricky bisa menghiburku dan mengembalikan kesegaran pikiranku.

Thursday, June 11, 2009

Bandung 1999 (1)

Ricky, sebuah nama yang baru saja aku kenal 1 minggu terakhir. Dia kelas 3 IPA dari SMU yang letaknya berdekatan dengan SMEA sekolah ku.
Sore itu aku pulang dari praktek olah raga disebuah gelangang yang telah ditentukan sekolah, teman-temanku sudah pulang lebih dahulu, banyak yang naik angkot atau bis kota, ada yang bawa motor sediri, ada pula yang bawa mobil, sebagian lagi dijemput oleh supir yang sengaja dibayar oleh orang tua mereka yang berkelebihan. Beberapa temanku yang wanita ada juga yang dijemput oleh pacarnya. Sedang aku masih berdiri ditepi jalan menunggu angkot yang selalu setia mengantar kupulang hanya sampai depan gang.
Hari yang awalnya terlihat cerah itu tiba-tiba mendung. Satu persatu tetes air hujan berjatuhan dan mulai membasahi tubuhku. Pada saat itu seorang laki-laki yang tidak berbeda jauh usianya dengan ku, menawarkan untuk berpayung bersama, dia adalah Ricky. Karena disekitar tempat tersebut tidak ada tempat berteduh yang cukup dekat aku menerima saja. Kami pun berkenalan dan kebetulan kami searah, sehingga kami naik angkot yang sama dan pembicaran kami bagaikan mengalir begitu saja. Sampai akhir kami berpisah karena tanpa terasa rumah ku sudah dekat, aku harus turun dan melajutkan sesaat perjalananku dengan menelusuri gang kecil.