Pagi ini kembali aku berangkat ke sekolah sendiri, padahal aku berharap bisa bertemu Ricky untuk bisa meminta maaf dan memberikan penjelasan padanya. Namun sepertinya hingga kini ia masih belum mau menemuiku.
Setiba di depan gang aku pun menyetop angkot untuk ikut naik menuju sekolah. Pada saat di dalam angkot tersebut ku bertemu dengan Rani, teman sekolah ku yang rumahnya berdekatan dengan rumah Ricky.
"Tumben kamu enggak sama Ricky?" tanya Rani.
"Enggak apa apa kok!" jawab ku.
"Tadi aku lihat Ricky, sepertinya wajahnya tidak biasa, kalian berantem ya?" tanyanya lagi.
"Eh.. lihat Ricky di mana?" aku pun lebih ingin tau keberadaan Ricky dari pada menjawab pertanyaannya.
Rani pun menceritakan kalau sebelum naik angkot dia sempat melihat Ricky dengan ekspresi yang sedang memendam amarah, dia terlihat seperti memikirkan sesuatu dan tidak fokus kepada sekelilingnya. "Dia tadi naik angkot yang sebelum ini" katanya.
Ku pikir Ricky pasti masih marah dengan ku, memang mungkin seharusnya aku lebih menjaga jarak dengannya sehingga apa yang terjadi saat ini tidak begini.
Setiba di depan sekolah ku, kami pun turun dari angkot. Alangkah terkejutnya aku, saat itu melihat kerumunan anak sekolah, sepertinya ada yang sedang berkelahi. Meskipun agak takut, aku pun mendekat dan kuperhatikan lagi dua anak laki laki yang berkelahi, di tengah kerumunan tersebut. Tiba tiba salah satu anak yang berkelahi tersebut sepertinya terhuyung ke arah ku. Dan ku kenali dia adalah Diwan, wajahnya terlihat sedikit merah di dekat mata kiri.
Di sisi yang berlawanan ternyata ku lihat wajah yang tidak asing, dia adalah Ricky, wajahnya terlihat merah penuh marah.
Ku pegang tangan Diwan, untuk menahan agar tidak meneruskan perkelahian. Ricky pun melihat ku sepertinya dia menahan diri karena melihat ku. Kemudian Ricky mengambil tas yang terletak di tanah, sambil memandang dan menunjuk Diwan dia berkata "Kita belum selesai, ku tunggu kau sore nanti!" kemudian dia pergi meninggalkan lokasi begitu saja.
Aku masih memegang tangan Diwan, karena aku khawatir dia akan mengejar Ricky. Setelah itu aku tarik Diwan dan ku temani menuju ruang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk memberikan pengobatan terhadap memar yang ada di wajahnya.
Di ruang UKS, beberapa teman ada yang membantu mengambilkan obat dan yang lainnya mengoleskan obat luka di wajahnya. Saat itu aku masih mendampingi Diwan namun aku tidak banyak bicara padanya. Aku khawatir bila terlalu memberikan perhatian, nanti disalah artikan lagi oleh Diwan, seperti halnya yang terjadi pada Ricky, sedangkan aku tidak memiliki perasaan pun dengannya.
Tuesday, April 7, 2020
Bandung 1999 (11)
Keesokan hari aku berangkat ke sekolah sendiri, tidak ada Ricky menunggu untuk berangkat bareng di depan rumah ku atau depan gang tampat biasa kami menunggu angkot bersama. Begitu pun ketika pulang sekolah, aku tak melihat Ricky menunggu ku di halte seberang sekolah. Mungkin memang sebaiknya kami tidak bertemu dahulu untuk sementara, agar kami bisa menenangkan diri kami masing-masing.
Ketika itu, kembali aku kembali dikejutkan oleh tepukan tangan di pundak ku. Ternyata Diwan kembali menyapa, dia pun menanyakan tentang surat yang kemarin diberikan kepada ku. "Gimana..? Udah dibaca belum..?" tanya Diwan dengan senyum di wajahnya.
Aku pun bingung menjawabnya, sedangkan surat tersebut sudah disobek-sobek Ricky tanpa aku sempat membacanya. Aku hanya bisa diam dan memberikan senyuman walau pun aku dalam kebingungan.
Lalu Diwan kembali mengatakan "Kamu pasti tidak menyangka... ya...?"
Lalu aku balas dengan penuh ragu "Iya..." pada hal aku tak mengerti sama sekali apa yang dimaksud oleh Diwan.
"Ya udah, jadi kamu mau kan..?" tanyanya lagi.
Aku pun hanya bisa terdiam kembali. Lalu Diwan kembali mengatakan "Udah ga perlu dijawab sekarang, nanti aja aku hubungi kamu lagi" kemudian ia pergi kearah teman temannya lagi seperti kemarin.
Aku menyeberangi jalan dan naik angkot untuk pulang. Pikiran ku gundah dan bercabang, di satu sisi aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meminta maaf kepada Ricky, kini ditambah persoalan baru tentang Diwan.
Sesampainya di rumah aku berusaha menenangkan diri, dan memilih untuk beristirahat lebih awal, berharap esok semua persoalan ku akan terjawab dengan cara yang baik dan kehidupan ku akan menjadi tenang kembali.
Ketika itu, kembali aku kembali dikejutkan oleh tepukan tangan di pundak ku. Ternyata Diwan kembali menyapa, dia pun menanyakan tentang surat yang kemarin diberikan kepada ku. "Gimana..? Udah dibaca belum..?" tanya Diwan dengan senyum di wajahnya.
Aku pun bingung menjawabnya, sedangkan surat tersebut sudah disobek-sobek Ricky tanpa aku sempat membacanya. Aku hanya bisa diam dan memberikan senyuman walau pun aku dalam kebingungan.
Lalu Diwan kembali mengatakan "Kamu pasti tidak menyangka... ya...?"
Lalu aku balas dengan penuh ragu "Iya..." pada hal aku tak mengerti sama sekali apa yang dimaksud oleh Diwan.
"Ya udah, jadi kamu mau kan..?" tanyanya lagi.
Aku pun hanya bisa terdiam kembali. Lalu Diwan kembali mengatakan "Udah ga perlu dijawab sekarang, nanti aja aku hubungi kamu lagi" kemudian ia pergi kearah teman temannya lagi seperti kemarin.
Aku menyeberangi jalan dan naik angkot untuk pulang. Pikiran ku gundah dan bercabang, di satu sisi aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meminta maaf kepada Ricky, kini ditambah persoalan baru tentang Diwan.
Sesampainya di rumah aku berusaha menenangkan diri, dan memilih untuk beristirahat lebih awal, berharap esok semua persoalan ku akan terjawab dengan cara yang baik dan kehidupan ku akan menjadi tenang kembali.
Bandung 1999 (10)
"Ky! Sakit!" rintihku, tapi Ricky sama sekali tidak peduli, dan tiba-tiba saja dia merebut surat yang ada di tanganku. Dan dengan marahnya dia merobek-robek surat itu sampai pecahan terkecil, lalu membuangnya ke tanah begitu saja.
"Kamu kejam Ricky! Kini ku tahu bagaimana sifatnya sebenarnya, kamu bukan Ricky yang ku kenal! Persahabatan kita putus sampai di sini!" sambil terisak ku berlari ke rumah tinggalkan Ricky tanpa peduli panggilannya.
Sampai di rumah aku langsung masuk kamar. Ku tumpahkan semua kesedihanku di peraduan dalam sunyi. Tidak kusangka Ricky aku kenal dulu telah berubah menjadi berang, egois dan pemarah.
Beberapa saat kemudian ku dengar ketukan di pintu kamar ku.
Sepertinya Ayah ku memperhatikan ku sejak tadi. Ku ceritakan kejadian tadi dan hubungan ku dengan Ricky pada Ayah. Ku merasakan kalau Ayah begitu memahami ku, namun dia tidak sepenuhnya mendukung sikap ku.
Dengan cara yang lembut ayah ku memberikan pengertian bahwa sikap yang ditunjukan oleh Ricky bukan kesalahan yang sepenuhnya ada pada Ricky. Menurutnya sikap yang ku berikan pada Ricky selama ini juga membuat Ricky menaruh harapan, dan itu sebelumnya tidak ku sadari. Bahwa waktu dan kebersamaan yang cukup sering aku lakukan bersama Ricky itu terlalu berlebihan untuk diberikan kepada seorang laki laki dengan status hanya sebagai teman.
Mungkin karena tidak pernah sekalipun ku dengar permintaan menjadi pacar dari Ricky, sehingga selama ini sikap ku terlalu terbuka dan mengangap hubungan kedekatan kami hanya sebagai teman saja.
Namun apa yang ayah sampaikan pada ku, aku pun memahaminya. Sekaligus menyadarkanku bahwa aku harus menjelaskan dan minta maaf kepada Ricky. Walau bagaimana pun marahnya Ricky pada ku hari ini, aku mengakui dia adalah anak laki laki yang baik, dan aku berharap ingin tetap bisa besahabat dengannya.
Beberapa saat kemudian ku dengar ketukan di pintu kamar ku.
Sepertinya Ayah ku memperhatikan ku sejak tadi. Ku ceritakan kejadian tadi dan hubungan ku dengan Ricky pada Ayah. Ku merasakan kalau Ayah begitu memahami ku, namun dia tidak sepenuhnya mendukung sikap ku.
Dengan cara yang lembut ayah ku memberikan pengertian bahwa sikap yang ditunjukan oleh Ricky bukan kesalahan yang sepenuhnya ada pada Ricky. Menurutnya sikap yang ku berikan pada Ricky selama ini juga membuat Ricky menaruh harapan, dan itu sebelumnya tidak ku sadari. Bahwa waktu dan kebersamaan yang cukup sering aku lakukan bersama Ricky itu terlalu berlebihan untuk diberikan kepada seorang laki laki dengan status hanya sebagai teman.
Mungkin karena tidak pernah sekalipun ku dengar permintaan menjadi pacar dari Ricky, sehingga selama ini sikap ku terlalu terbuka dan mengangap hubungan kedekatan kami hanya sebagai teman saja.
Namun apa yang ayah sampaikan pada ku, aku pun memahaminya. Sekaligus menyadarkanku bahwa aku harus menjelaskan dan minta maaf kepada Ricky. Walau bagaimana pun marahnya Ricky pada ku hari ini, aku mengakui dia adalah anak laki laki yang baik, dan aku berharap ingin tetap bisa besahabat dengannya.
Bandung 1999 (9)
"Lalu selama ini kau anggap apa diriku?" gerutunya.
"Setelah kita saling mengenal cukup jauh, wajar saja kalau aku berharap sesuatu darimu bukan? Karena aku telah menghabiskan semua waktumu apakah itu sama sekali tidak berharga untukmu? Seharusnya kau tahu apa yang ku bicarakan dan mengerti apa yang aku mau!" ucapnya dengan aliran kata kata yang cepat, dan nada begitu marah.
"Setelah kita saling mengenal cukup jauh, wajar saja kalau aku berharap sesuatu darimu bukan? Karena aku telah menghabiskan semua waktumu apakah itu sama sekali tidak berharga untukmu? Seharusnya kau tahu apa yang ku bicarakan dan mengerti apa yang aku mau!" ucapnya dengan aliran kata kata yang cepat, dan nada begitu marah.
"Jadi kau menyesal dengan apa yang telah kau lakukan padaku, Aku sangka kau begitu tulus mau menjadi temanku, ternyata di balik semua itu . . . " ucapan ku terputus karena Ricky memotong perkataanku.
"Teman, teman, teman..!? Apa cuma itu yang ada di dalam pikiranmu?"
Kali ini aku melihat semua wajahnya yang tiba tiba menjadi merah padam baru ini aku melihat dia begitu marah.
"Tidakkah kau mengerti perasaanku, atau mungkin memang kau lebih memilih dia ketimbang aku, ayo jawab!" ancamnya sambil mencekal tanganku.
Kali ini aku melihat semua wajahnya yang tiba tiba menjadi merah padam baru ini aku melihat dia begitu marah.
"Tidakkah kau mengerti perasaanku, atau mungkin memang kau lebih memilih dia ketimbang aku, ayo jawab!" ancamnya sambil mencekal tanganku.
Bandung 1999 (8)
"Teman?" ucapnya sinis. "Apa kau pikir dia hanya menganggapmu sebagai teman aku lihat gimana cara dia memandang mu kalau dia itu suka kamu!" teriaknya.
"Apa salahnya kalau dia suka aku, toh aku berteman denganmu karena aku juga suka sama kamu" jawab ku juga dengan suara yang lantang.
"Itu lain... aku yakin kalau dia naksir sama kamu!"
"Hari ini kamu aneh, omongan mu membuatku pusing, kamu tidak biasanya bersikap begini. Sebenarnya apa sih yang ingin kamu bicarakan?" balas ku.
"Kamu ingin tahu! Aku tidak suka kalau ada laki-laki yang mendekati kamu selain aku!" gertaknya, membuatku merasa takut.
"Apa maksud mu? Kamu mengancamku, kamu sama sekali tidak berhak mengatur dengan siapa aku bergaul. Aku berterima kasih padamu karena kau telah mengubah diriku menjadi sesuatu yang baru dalam hidupku, tapi bukan berarti kau bisa menentukan hidup ku!" ucap ku marah.
Tuesday, June 30, 2009
Bandung 1999 (7)
Setelah sekian lama kebisuan mengiringi kami, di depan Gang yang menuju rumah ku, akhirnya Ricky membuka pembicaraan.
“Hari ini kamu sedang bahagia yah..?” tanya Ricky kepada ku sinis.
“Maksud kamu...?” dengan terheran aku tanya ku balik.
“Alaaa...h, jangan pura-pura!” ucapnya kembali sinis.
“Pura-pura apa? Ngomong yang jelas dong, aku nggak ngerti apa yang kamu omongin!” balas aku dengan sedikit kesal.
“Baik, aku to the point aja. Siapa laki-laki itu?” tanyanya penuh selidik.
“Laki-laki mana?”
“Laki-laki yang ngasih surat itu kamu tadi!" Ricky menunjuk surat yang sedari tadi memang masih ku pegang di tangan. "Aku yakin itu surat cinta, makanya kamu senang sekali menerimanya.” tukasnya cukup yakin dan agak ngotot.
“Ricky, Ricky, kamu ini kenapa? Dia itu teman ku, namanya Diwan. Dengar, jangan sampai karena persoalan sepele, persahabatan kita jadi berantakan."
“Hari ini kamu sedang bahagia yah..?” tanya Ricky kepada ku sinis.
“Maksud kamu...?” dengan terheran aku tanya ku balik.
“Alaaa...h, jangan pura-pura!” ucapnya kembali sinis.
“Pura-pura apa? Ngomong yang jelas dong, aku nggak ngerti apa yang kamu omongin!” balas aku dengan sedikit kesal.
“Baik, aku to the point aja. Siapa laki-laki itu?” tanyanya penuh selidik.
“Laki-laki mana?”
“Laki-laki yang ngasih surat itu kamu tadi!" Ricky menunjuk surat yang sedari tadi memang masih ku pegang di tangan. "Aku yakin itu surat cinta, makanya kamu senang sekali menerimanya.” tukasnya cukup yakin dan agak ngotot.
“Ricky, Ricky, kamu ini kenapa? Dia itu teman ku, namanya Diwan. Dengar, jangan sampai karena persoalan sepele, persahabatan kita jadi berantakan."
Tuesday, June 23, 2009
Bandung 1999 (6)
Hubungan “pertemanan” aku dan Ricky pun terus berjalan.
Hingga pada suatu hari, sepulang sekolah, ketika itu Ricky sudah mengunggu ku di halte seberang jalan depan sekolah ku. Aku sudah melihatnya setelah aku melewati sedikit saja pintu gerbang sekolah karena memang sangat sering Ricky mejemput ku dan halte itu adalah “pos” jaganya.
Aku memang pernah minta dia, jika mapu pulang bareng untuk menunggu di seberang saja, karena kadang aku suka risih dengan beberapa teman yang suka menyapa dengan nada menggoda akan hubungan kami, yang sebenarnya hanya sebatas teman dekat saja.
Aku pun berjalan menuju halte tersebut. Kulihat Ricky pun sudah melihat ku, dengan pandangan cerah, menanti ku. Sesaat ku berhenti di tepi jalan, ku tengokan kepala ku ke kanan untuk memperhatikan kendaraan yang melintas dan ku menunggu aman untuk menyeberang.
Ketika aku hedak menyeberang, tiba-tiba seseorang menepuk punggungku dari belakang dan memegang lengan ku. Dia Diwan, teman sekolah yang kelasnya bersebelahan dengan ku.
Kami sempat berbicara sebetar, Diwan terlihat agak grogi namun aku tetap menanggapinya dengan tersenyum, tak lama dari saku bajunya dia mengeluarkan amplop, dan langsung dia berikan kepada ku dengan menyampaikannya di telapak tangan kanan ku, seraya mengucapkan“tolong dibaca aja ya”. Lalu Diwan pergi menuju beberapa temannya yang sepertinya memang memang sedang menunggunya.
Tak lama aku pun menyeberang, dengan sepucuk surat masih ku pegang di tangan.
Setibanya di seberang jalan, tiba-tiba Ricky menarik lengan ku, tanpa peduli kalau aku merasa agak kesakitan karena dia mecengkram lengan ku dengan cukup kuat. Di saat itu sebuah angkot dengan tujuan kami biasa gunakan berhenti di hadapan kami untuk menurunkan penumpang, Ricky pun langsung menarik ku naik angkot tersebut.
Baru di angkot yang kami langsung tumpangi Ricky melepas tanganku. Selama perjalannya dalam angkot, Ricky membisu, kulihat wajahnya seperti sedang marah.
“Kiri Pak!” Ucap ku kepada sopir angkot, sesampainya di depan gang rumah ku, angkot yang kami tumpangi pun berhenti.
Hingga pada suatu hari, sepulang sekolah, ketika itu Ricky sudah mengunggu ku di halte seberang jalan depan sekolah ku. Aku sudah melihatnya setelah aku melewati sedikit saja pintu gerbang sekolah karena memang sangat sering Ricky mejemput ku dan halte itu adalah “pos” jaganya.
Aku memang pernah minta dia, jika mapu pulang bareng untuk menunggu di seberang saja, karena kadang aku suka risih dengan beberapa teman yang suka menyapa dengan nada menggoda akan hubungan kami, yang sebenarnya hanya sebatas teman dekat saja.
Aku pun berjalan menuju halte tersebut. Kulihat Ricky pun sudah melihat ku, dengan pandangan cerah, menanti ku. Sesaat ku berhenti di tepi jalan, ku tengokan kepala ku ke kanan untuk memperhatikan kendaraan yang melintas dan ku menunggu aman untuk menyeberang.
Ketika aku hedak menyeberang, tiba-tiba seseorang menepuk punggungku dari belakang dan memegang lengan ku. Dia Diwan, teman sekolah yang kelasnya bersebelahan dengan ku.
Kami sempat berbicara sebetar, Diwan terlihat agak grogi namun aku tetap menanggapinya dengan tersenyum, tak lama dari saku bajunya dia mengeluarkan amplop, dan langsung dia berikan kepada ku dengan menyampaikannya di telapak tangan kanan ku, seraya mengucapkan“tolong dibaca aja ya”. Lalu Diwan pergi menuju beberapa temannya yang sepertinya memang memang sedang menunggunya.
Tak lama aku pun menyeberang, dengan sepucuk surat masih ku pegang di tangan.
Setibanya di seberang jalan, tiba-tiba Ricky menarik lengan ku, tanpa peduli kalau aku merasa agak kesakitan karena dia mecengkram lengan ku dengan cukup kuat. Di saat itu sebuah angkot dengan tujuan kami biasa gunakan berhenti di hadapan kami untuk menurunkan penumpang, Ricky pun langsung menarik ku naik angkot tersebut.
Baru di angkot yang kami langsung tumpangi Ricky melepas tanganku. Selama perjalannya dalam angkot, Ricky membisu, kulihat wajahnya seperti sedang marah.
“Kiri Pak!” Ucap ku kepada sopir angkot, sesampainya di depan gang rumah ku, angkot yang kami tumpangi pun berhenti.
Subscribe to:
Comments (Atom)

